Apakah Epilepsi Bisa Disembuhkan: Bisa, Berikut Kisah Pengalamanku

Namaku adalah Yulia Firdayanti (wanita)

Aku akan bercerita tentang kehidupanku bersama penyakit epilepsi yang sebelumnya pernah aku sandang selama kurang lebih selama 24 tahun lamanya, ini adalah kisah nyata yang benar-benar terjadi kepadaku. Tolong disimak ya teman-teman.

Aku lahir di desa Wasah Tengah, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin. Kalian semua pasti sudah banyak yang tahu, di kandangan kan terkenal dengan tempat wisata Loksado dan masyarakat Dayak Meratus. hehehe Maaf jadi menyimpang ke topik lain.

Aku tidak tahu mengapa penyakit epilepsi itu terjadi kepadaku. Awalnya aku berfikir apa salahku, apa salah ibu dan ayahku, dan apa salah nenek moyangku sehingga penyakit epilepsi ini terlimpah kepadaku. Aku juga tidak tahu apakah aku waktu kecil dulu pernah mengalami benturan kepala atau tidak sehingga penyakit itu timbul begitu saja kepadaku, aku tidak dapat mengingat masa pada saat aku kecil dulu. Aku menyangka karena kesalahan nenek moyangku yang pernah berurusan dengan makhluk alam lain sehingga aku berfikir aku terkena dampak negatifnya. ternyata semua itu keliru, semuanya tidaklah benar. Allah SWT telah berkehendak menurunkan penyakit kepada manusia, semua itu sudah tertulis d tiap masing-masing manusia, semuanya tidak bisa kita tepis. Jodoh, penyakit, rezeki, dan maut itu sudah mutlak adanya dan tidak bisa kita rubah.

Umurku sekarang adalah 24 tahun, artinya hampir 24 tahun juga aku mempunyai penyakit epilepsi. Pertama kali awal aku mengalaminya sejak usia 3 tahun, saat itu aku terkena step atau badanku panas. Kata ibuku ketika aku masih kecil sering mengalami ketakutan terhadap suara-suara asing seperti bunyi pesawat terbangyang tidak sengaja melintas di atas rumahku. Pada saat aku beranjak usia 4,5 tahun atau kira-kira ketika aku masih TK (taman kanak-kanak), saat itu lah pertama kalinya aku terkena penyakit epilepsi. Badanku kejang-kejang tanpa bisa aku kontrol karena semua diluar kendaliku, mungkin kebanyakan orang yang mempunyai penyakit serupa denganku mengalami dan keluarnya buih air liur yang penuh di mulut, tetapi aku tidak seperti itu. saat penyakit itu timbul maka pertama-tama tanganku akan mengusap-usap wajahku, mataku mulai bergerak ke sana-kemari,  arah bibirku mulai ke arah kiri, begitu juga tangan dan kaki ku. semuanya ke arah kiri dengan serempak mengalami kejang-kejang, kadang-kadang mulutku meneteskan liur tanpa ada buih seperti kebanyakan orang yang mengalaminya.

Mungkin kebanyakan orang yang belum kenal denganku, atau yang coba berteman denganku pasti akan terkejut melihat keadaanku ketika aku mengalami kejadian kejang-kejang tersebut. mungkin ketika orang atau teman-teman ku saat di depanku atau dihadapanku ada saja yang simpati kepadaku, tetapi mungkin juga ada juga yang mencibirku. Aku tidak tahu isi hati orang lain, oleh karena itu aku tidak mau ambil pusing, karena jika aku pikirkan maka semua itu akan mengganggu pikiranku dan membuat aku stress, soalnya kata ibuku penyakit itu kadang-kadang timbul juga akibat aku kebanyakan pikiran atau kelelahan.

Kalau tidak salah aku mulai mengkonsumsi obat epilepsi dari Tsanawiyah atau SMP sederajat untuk mengurangi gejala epilepsiku, perbandingan ketika aku tidak minum obat dan minum obat adalah:

1. ketika aku meminum obat maka penyakitku akan timbul 1 atau 2 kali saja sampai sebulan.

2. ketika aku tidak meminum obat maka penyakitku akan sering timbul, bisa terjadi 6-7 kali dalam sebulan dan ini tentu saja sangat mengganggu ketika aku beraktifitas.

oleh karena itu aku harus rutin tiap hari mengonsumsi obat untuk meredakan terjadinya serangan epilepsi yang akan sering timbul serangan jika aku tidak meminum obat.

Aku sangat senang kepada teman-temanku ketika aku bersekolah, mungkin karena sudah kenal dan terbiasa dengan keadaanku ketika aku mengalami serangan epilepsi. Dengan segera teman-temanku akan mengantisipasi keadaanku ketika aku akan mengalami serangan epilepsi, teman-teman ku dengan segera menolong dan memegangi kepalaku ketika aku terkena penyakit tersebut. Aku sangat bersyukur walaupun Allah memberikan penyakit ini kepadaku, tetapi teman-temanku mengerti dan simpati akan keadaanku.

Apakah kalian percaya bahwa aku sekarang telah menyelesaikan sekolah 12 tahun yaitu SD, SMP, SMA? mungkin kalian akan sulit untuk percaya bahwa aku sudah lulus sampai SMA sederajat bahkan sampai Stara 1 di STKIP atau sudah lulus kuliah, itu tidak lah mustahil bagi ku atau orang-orang yang mempunyai penyakit seperti ku. Jangan sampai kalian remehkan keadaan ku yang seperti ini karena buktinya aku sudah lulus S1 walaupun berat rasanya. mengapa terasa berat? itu karena selama aku dari kecil sampai besar seperti sekarang ini untuk menimba ilmu, tidak dapat terhitung lagi berapa puluh kali aku mengalami kecelakaan di jalan. Aku kuliah dari rumah ke tempat kuliah menempuh jarak 145 kilo meter, atau dari rumah di kandangan ke ibu kota provinsi Banjarmasin memakai sepeda motor sendiri. semua itu kujalani dengan penuh keikhlasan dan aku berfikir hasilnya akan kunikmati jika aku bekerja dan bekeluarga kelak.

Ketika terakhir aku kecelakaan saat ingin memenuhi persyaratan pekerjaan. Di jalan aku kehilangan kesadaran ketika serangan itu muncul tiba-tiba, aku pun jatuh ke jalan dan kepala ku terbentur aspal jalan saat helm yang ku pakai terlepas dari kepalaku. Aku pun tidak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit, beberapa hari aku dirawat di rumah sakit Brigjend Hasan Basri Kandangan. Setelah itu aku dibawa ke rumah sakit di Banjarmasin untuk pemeriksaan yang lebih intensif. Pada saat itu lah dokter di sana  yaitu dokter Audi berbicara dengan ibuku tentang temannya  seorang dokter yang bekerja di rumah sakit yang ada di Semarang atau di RSDK(rumah sakit dokter Kariadi), bahwa di sana sudah banyak pasien-pasien yang sudah berhasil dioperasi dan terbukti berhasil. Dengan segera keluarga ku pun menyarankan untuk segera dioperasi di sana.

Kira-kira pada bulan Juli 2012 dulu setelah aku menikah dengan kenalanku saat aku di bangku kuliah dulu, namanya Yazid fahri— setelah 3 hari aku menikah lalu aku langsung terbang ke Semarang dan bertemu Dokter Tohar, Prof Zainal M. dan juga dokter lain untuk konsultasi dan periksa soal penyakitku diruang EEG, di rawat inap untuk mengetahui perkembangan serangan epilepsi tsb dan semacamnya. singkat cerita, setelah check up kata dokter dan Prof bahwa penyakitku termasuk penyakit yang lumayan rumit untuk dioperasi karena letak penyakitku berada di otak depan sebelah kanan. katanya di otak depan kanan tersebut juga banyak terdapat bermacam-macam syaraf termasuk kali dan tangan, oleh karena itulah setiap aku terkena serangan, tangan dan kakiku bergerak ke arah kiri setiap kali kejang. Karena dokter masih belum berani mengoperasi takut-takut kalau terjadi mal praktek yang kemungkinan jika salah mengoperasi maka akan mengakibatkan tidak berfungsinya kaki dan tanganku. Karena itu lah aku di sarankan dokter di RSDK itu untuk satu kali lagi memeriksakan keadaan gambaran otak ku yang lebih detail yaitu dirujuk ke Jakarta, karena di rumah sakit di jakarta itulah satu-satunya alat yang hanya ada di Indonesia yang dapat memeriksa dan mendeteksi penyakit itu berada dengan detail. Akhirnya aku kembali sejenak ke rumah untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dan memikirkan detik-detik hari resepsi perkawinanku bersama suamiku tanggal 09 september 2012 kemarin.

setelah 3 hari dari acara resepsi perkawinanku, akupun langsung terbang ke jakarta bersama keluargaku dan tanpa suamiku, karena suami ku masih mengurus kuliahnya di Banjarmasin dan berjanji akan menyusul ketika aku positif akan operasi. Setibanya di Jakarta aku berada di sana kira-kira 10 hari karena alat pemeriksaan tersebut di jadwalkan hanya di buka pada hari selasa-kamis dan kami tidak sempat mendaftar dengan cepat, oleh karena itu aku dan keluarga pun jalan-jalan untuk menghiburku. Tibalah hari H aku memeriksakan keadaan otak ku dan positif letaknya di otak syaraf depan bagian kanan. Dengan segeranya aku langsung pergi ke Semarang dan ingin secepatnya dilakukan rawat inap sebelum operasi. Akupun di suruh dokter untuk menginap 3 hari sebelum penanganan operasi dan dengan segera menghubungi suamiku untuk segera menyusul ke semarang sendiri naik pesawat terbang. ketika malam sebelum hari H operasi, aku di suruh untuk puasa oleh perawat. sebenarnya aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya operasi karena baru kali ini aku akan melaksanakan operasi, kecemasan dan ketakutan menyelimuti ku. Aku takut tidak bisa melihat dunia lagi, tetapi inilah rencana dari Allah untukku, mungkin inilah saatnya bagiku untuk sembuh. sebuh karunia dari Allah SWT untuk ku, dan oleh karena itu apapun yang terjadi aku harus menjalaninya. toh ibu dan suamiku sudah ada setiap saat di sampingku, dan kakak ku yang senantiasa mendoakanku walau tidak bersama ku saat aku ingin dioperasi.

Saatnya pun tiba, aku pun di bawa dari kamar kelas 3 ke ruang operasi, dari pukul 6.30 WIB pagi sampai pukul 16.00 WIB aku baru selesai dioperasi. jahitan di kepala ku pun tidak tanggung-tanggung,ada 25 jahitan. Pasca dioperasi, mengapa setiap kali aku sadar tiba-tiba kepalaku kesakitan seakan-akan mau pecah, aku pun merengek kesakitan. Mungkin itu karena efek dari operasi yaitu luka bekas belahan operasi yang ada di kepalaku. Aku orangnya juga tidak tahan dengan suntikan dan obat-obat yang banyak, padahal itu semua adalah obat-obatkan agar aku cepat  sembuh dan mengurangi rasa sakit di kepalaku. Akhirnya tiap hari aku menangis karena setiap hari aku harus menahan sakit disuntik dan diberi obat. Karena tidak tahan dengan keadaan tersebut,  kemarahanku pun akhirnya memuncak dan meminta doktor untuk diberi izin pulang setelah kira-kira 5 hari di rumah sakit. dokterpun akhirnya mengizinkanku pulang dengan syarat tetap berobat jalan di rumah sakit di tempatku berada.

Ketika aku, ibu, dan suami ku ingin berangkat pulang ke Banjarmasin, di depan pintu pesawat kami tiba-tiba saja dicegat oleh pramugari, aku pun kaget apakah gerangan sehingga kami bertiga dicegat oleh pramugari, ternyata pramugari tersebut tidak sengaja melihat aku di rangkul ibu dan suami ku dan kelihatan nampak sekali bahwa aku dalam keadaan sakit. Lalu kami ditanya oleh pramugari tersebut dan ia bertanya “apakah anda sakit bu?” kata seorang pramugari tersebut. Kami pun menjawab “iya, sakit. Habis operasi” kata kami. Ia pun bertanya lagi “apakah ibu sudah dapat izin terbang dari maskapai kami? Ada surat izinnya bu?”. Kata kami pun ” tidak ada mba, kami tergesak-gesak untuk berangkat dan tidak sempat memberitahu keadaannya”. Lalu pramugari itupun langsung mengantar kami ke tempat duduk pesawat “Tunggu sebentar, kami akan memberikan surat pernyataan untuk anda isi” katanya. Tidak lama kemudian salah seorang pegawai bandara datang menghampiri kami dan memberikan surat tersebut untuk diisi, kesimpulan isi surat tersebut adalah bahwa maskapai tersebut tidak bertanggungjawab atas kejadian yang mungkin terjadi di perjalanan tersebut. Setelah aku isi surat tersebut dan menandatangani serta menyerahkannya kepada pegawai tersebut, pesawat yang kami tumpangi akhirnya berangkat dan setibanya di bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru tiba-tiba kami langsung dihadang oleh mobil pribadi dari Bandara. Peristiwa itu seakan menjadi pelayanan istemewa kami, soalnya bagi orang umum biasanya hanya disediakan Bus Bandara. Hehe, ada untungnya juga jadi orang sakit.

Kira-kira seminggu sudah aku di rumah, tiap hari aku harus tetap meminum obat pereda sakit dan tetap dianjurkan meminum obat epilepsiku, tapi tetap saja tiap hari aku merasakan sakit kepala yang kadang reda dan kadang mau pecah. Pada saat kurang lebih 8 hari, aku sudah mulai bosan untuk meminum obat. Padahal dokter menyarankan agar tetap meminum obat selama masa penyembuhan 6 bulan. Akupun menganggap remeh ucapan dokter tersebut dengan tidak meminum obat selama 2 hari, akhirnya akupun kembali terkena serangan selama 2 hari juga. Akupun kapok dan jera atas ulahku sendiri. Tetapi setelah aku mencari info di internet tentang seseorang mantan epilepsi bahwa setelah pasca operasi kemungkinan penyakit itu tidak akan langsung hilang, pasti ada kena serangan pasca operasi, setelah itu 90% akan hilang. Aku cuma berharap penyakitku benar-benar hilang seumur hidupku, memang aku baru saja dioperasi. Baru sebulan kira-kira aku pasca operasi, sekarang aku harus tetap rutin untuk meminum obat itu sampai aku merasa agak enakan.

Semoga ceritaku berguna, membawa berkah, dan memberi inspirasi untuk kalian semua untuk sembuh. Ingat, di dunia ini tidak ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Allah SWT tidak akan menurunkan suatu penyakit tanpa ada obat atau penawarnya, oleh karena itu lah Allah SWT memberikan segala karunia di bumi, entah itu melalui tumbuh-tumbuhan, ilmu alam, teknologi, ataupun kecedasan manusia untuk memikirkan tentang segala obat dan kesembuhan. Mohon maaf jika dalam cerita ini banyak kekurangannya karena aku cuma menceritakan cerita intinya saja, jika kuceritakan sepenuhnya tentang diriku,suamiku atau keluargaku maka kalian akan terlalu banyak membaca dan membuat bosan. Terimakasih telah membaca Blog ku, sebenarnya ini adalah blog punya suamiku.

Sumber: yazidfahri.wordpress.com

apakah epilepsi pada orang dewasa bisa disembuhkan pengalaman sembuh dari epilepsi penderita epilepsi yang sembuh total ciri ciri sembuh dari epilepsi buah untuk penderita epilepsi epilepsi pada anak bisa sembuh penyembuhan epilepsi pada bayi apakah epilepsi bisa menular

Tinggalkan komentar