Apakah Anak Hiperaktif Bisa Sembuh

Anak hiperaktif adalah kondisi di mana anak cenderung lebih aktif dan tidak bisa tenang, tidak bisa diam. Tak hanya aktif, tak jarang anak hiperaktif sering berkata kasar, teriak-teriak dan sulit dikendalikan. Menurut ahli psikolog anak hiperaktif seringkali mengabaikan nasehat dari orangtua atau orang dewasa di sekitarnya.

Menurut informasi yang kami dapatkan dari laman babycenter.com, kondisi hiperaktif ternyata tidak hanya dialami anak-anak saja, melainkan juga orang dewasa juga bisa mengalami kondisi ini.

Biasanya orang dewasa yang mengalami hiperaktif sudah terbawa sejak anak-anak dan mereka tidak bisa mengendalikan atau mengatasi kondisi tersebut.

Menurut jurnal kesehatan, di Indonesia, terdapat sekitar 10 persen anak usia Sekolah Dasar (SD) mengalami perilaku hiperaktif. Anak hiperaktif menunjuk ketidakmampuannya dalam mengontrol perilaku, sehingga aktivitas melebihi pada umumnya.

Pada beberapa kasus, orang yang memiliki perilaku hiperaktif dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Kata Dr. M.G. Adiyanti, M.S. “Anak yang hiperaktif tidak selalu identik dengan bodoh atau kurang pintar. Hanya saja anak tersebut tidak bisa memusatkan perhatiannya dengan baik,”

Dr. Adiyanti juga mengatakan, anak hiperaktif cenderung mengalami kegagalan dalam menjalankan tugas-tugas yang terstruktur, sehingga sang anak membutuhkan keteraturan dan ketekunan berkesinambungan.

Jika dilingkungan sekolah, hal yang banyak ditemui pada anak hiperaktif adalah kegagalan dalam mengikuti proses belajar mengajar di sekolah, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Namun, pada pergaulan sehari-hari, anak hiperaktif seringkali mengalami kesulitan, terutama dalam hal mempertahankan pertemanannya.

Menurut dr. Adiyanti, hiperaktivitas memiliki tiga gejala yang sering dialami.

  • in-atensi yakni tidak dapat memusatkan perhatian.
  • impulsivitas atau bereaksi dengan cepat tanpa harus berpikir panjang.
  • hiperaktivitas, yakni aktivitas fisik yang berlebihan dibandingkan teman seusianya.

Selain faktor fisiologis dan neurologis, faktor lain seperti dari konsumsi obat tertentu juga dapat menjadi faktor yang mempengaruhi hiperaktivitas.

Jika penyebab diatas tidak ditemukan, kemungkinan besar anak tersebut tidak mendapatkan pendidikan norma perilaku dengan metode yang tepat.

“Untuk mengatasinya, orang tua dan guru di sekolah harus mampu mengatur pola komunikasi dengan anak secara baik. Kebiasaan bertindak kasar dan bersuara keras pada anak sebaiknya dihindarkan,” katanya.

Sementara itu menurut dokter spesialis anak, dr. Ratih SPA, anak hiperaktif terjadi akibat gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Hal itu terjado pada 4-6 persen anak usia sekolah dan 2-4 persen pada usia dewasa.

“Lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan wanita. Umumnya pada anak sebelum usia 7 tahun,” kata Ratih.

Ratih mengatakan tujuh faktor yang menjadi penyebab anak jadi hiperaktif yakni faktor genetik, diet gula dan zat pengawet, pola asuh yang buruk, masalah keluarga, sekolah yang tidak efektif, adanya pengaruh rokok dan alkohol saat kehamilan serta adanya perlukaan di otak.

Untuk mengetahui anak hiperaktif atau tidaknya, maka orang tua harus mengetahui gejala anak hiperaktif ditandai perilaku mudah frustasi, mudah menangis, overaksi dan cepat marah. Selanjutnya, ditunjukkan rasa percaya diri yang rendah, sulit berteman, sulit beradaptasi dan kurang matang secara sosial.

Dr. M.G. Adiyanti, M.S. juga menambahkan “Kalau ada anak yang hiperaktif, selain perlu terapi konseling dan obat-obatan, juga memerlukan peran orang tua dan sekolah dalam memberi pendidikan yang baik pada anak,” katanya.

Tinggalkan komentar